Ekonomi Indonesia 2007
Merumuskan Kebijakan Ekonomi Partai Golkar

Dr. Harry Azhar Azis, MA ...Lanjut>>

Ekonomi Indonesia 2007
Merumuskan Kebijakan Ekonomi Partai Golkar

Dr. Harry Azhar Azis, MA ...Lanjut>>

PENDAPAT AKHIR FRAKSI PARTAI GOLONGAN KARYA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA ATAS RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
Dibacakan Oleh : DR. H. Harry Azhar Azis, MA
Anggota DPR RI No. : A - 447.
... Lanjut>>

 
Selasa, 1 April 2008
Defisit APBNP 2008 - Harry Azhar Azis
Wakil Ketua Panitia Anggaran DPR-RI
Rapat Kerja Panitia Anggaran DPR dengan pemerintah dan Bank Indonesia (BI) pada 26 Maret 2008 memutuskan defisit APBN Perubahan (APBNP) 2008 menjadi Rp 94,5 triliun atau 2,1% terhadap PDB tahun 2008 yang diperkirakan sebesar Rp 4.484,3 triliun. Angka ini naik 0,4% dari defisit APBN 2008, yaitu 1,7% (Rp 73,3 triliun) yang disahkan rapat paripurna DPR pada Oktober 2007 dan menjadi UU Nomor 45/2007.

Rapat paripurna DPR pada 10 April 2008 nanti, untuk mensahkan perubahan tersebut, tampaknya tidak akan berbeda dari hasil rapat kerja pada 26 Maret lalu. Angka defisit membesar karena belanja negara meningkat lebih cepat (dari Rp 854,7 triliun menjadi Rp 987,5 triliun) dibanding penerimaan negara (dari Rp 781,4 triliun menjadi Rp 892,9 triliun).

Dengan asumsi baru harga bahan bakar minyak (BBM) sebesar 95 dolar AS/barel, dibanding sebelumnya 60 dolar AS/barel, penerimaan negara bertambah Rp 111,5 triliun. Sementara itu, belanja negara bertambah Rp 132,8 triliun, sehinga terdapat perbedaan negatif Rp 21,3 triliun atau tambahan defisit 0,4%.

Perbedaan ini disebabkan perhitungan penerimaan negara menggunakan harga ICP (harga patokan minyak Indonesia) rata-rata 95 dolar AS/barel, tetapi belanja subsidi menggunakan harga MOPS( harga patokan Singapura) seperti untuk subsidi premium 104,3 dolar AS/barel ditambah biaya distribusi sebesar alpha 9%. Tambahan belanja negara meningkat karena besaran belanja subsidi juga meningkat, terutama subsidi BBM dan listrik.

Total tambahan penerimaan negara dari migas sebesar Rp 91,2 triliun, sementara total tambahan belanja subsidi BBM Rp 81 triliun (dari Rp 45,8 triliun menjadi Rp 126,8 triliun) dan subsidi listrik Rp 30,5 triliun (dari Rp 29,8 triliun menjadi Rp 60,3 triliun). Angka-angka ini adalah perbedaan APBN 2008 dan APBNP 2008 yang sekaligus menunjukkan makin beratnya beban subsidi pada APBNP 2008.

Beban subsidi ini relatif berkurang bila lifting minyak tidak diturunkan dari 1,034 juta barel/hari (APBN 2008) menjadi hanya 927 ribu barel/hari (APBNP 2008). Pemerintah beralasan angka 927 ribu barel adalah angka best effort karena rata-rata lifting tahun 2007 hanya 898 ribu barel/hari.
Tanpa perubahan signifikan atas kebijakan belanja subsidi di masa datang, setiap perubahan positif harga minyak dunia akan berimplikasi pada harga minyak dalam negeri. Dan, beban subsidi BBM dan listrik akan selalu menjadi faktor penekan APBN.

Tampaknya hanya ada dua opsi untuk meringankan beban ini, yaitu mendorong lifting minyak ke atas level best effort dan/atau menyesuaikan harga subsidi (premium, minyak tanah dan solar) makin dekat ke harga perubahan (pasar). Opsi pertama ini terkait peningkatan produktivitas sektor migas.

Opsi kedua menyangkut pilihan politik ekonomi pemerintah dan DPR. Kecuali muncul keadaan yang memaksa, opsi kedua tampaknya tidak akan menjadi pilihan politik, terutama di tahun politik yang makin menghangat sekarang ini. (Suara Karya Online)
   
  Selasa, 1 April 2008
Defisit APBNP 2008
Harry Azhar Azis - Wakil Ketua Panitia Anggaran DPR-RI>>


Selasa, 23 Oktober 2007
Dividen BUMN pada 2008
Harry Azhar Azis - Anggota Komisi XI DPR-RI >>


6 Februari 2006
Catatan Harry Azhar Azis, Anggota Komisi XI DPR RI,untuk Hearing Komisi XI DPR RI dengan Menteri Keuangan >>
 
 
 
 
 
DR. H. HARRY AZAR AZIS, MA.