 |
Ekonomi Indonesia 2007
Merumuskan Kebijakan Ekonomi Partai Golkar
Dr. Harry Azhar Azis, MA
1. Kenaikan harga BBM 1 Oktober 2005 ternyata
menjadi benchmark situasi perekonomian tahun 2006
dan akan terus berlanjut di tahun 2007. Inflasi
Oktober 2005 yang mencapai 8,7% (MoM) merupakan
puncak tingkat inflasi bulanan selama tahun 2005,
yang walaupun menurun di November 2005 (1,3%),
telah mendongkrak angka inflasi menjadi 18,4%
(YoY), yang merupakan angka inflasi tertinggi
selama 6 tahun ini. Angka inflasi ini per Desember
30, 2005 (YoY), menjadi 17,1%, angka yang jauh
dari target UU APBN-P II No 9/2005. Penyumbang
inflasi terbesar adalah kenaikan biaya transportasi
lebih 40% dan harga bahan makanan 18%. Core inflation
naik ke 9,4%, menunjukkan kebijakan moneter tidak
efektif. Inflasi dua digit ini (CPI) jauh melampau
angka ekspektasi inflasi target APBN (8,6%) atau
inflasi nota Keuangan 2005 (7%) Presiden ke DPR
16 Agustus 2005. Inflasi dua digit tidak berubah
sampai Q3 tahun 2006, yang berimplikasi luas pada
perekonomian 2006. Misalnya, Inflasi sampai bulan
Februari 2006 (YoY) masih tinggi 17,92%, dibanding
Februari 2005 7,15% (YoY) dan Februari 2004 4,6%
(YoY). Pada Agustus 2006, inflasi menurun ke 14,9
(YoY) atau inflasi inti 9,68% (YoY) artinya tetap
masih tinggi, padahal target inflasi 2006 sebesar
8%. Memang inflasi kumulatif (Januari-Agustus
2006) masih cukup rendah yaitu 3,67% sehingga
masih ada harapan. Yang menarik, Gubernur BI memprediksi
inflasi tahun 2005 sebesar 14% (Kompas, 25 Oktober
2005) dan bahkan Menteri PPN/BAPPENAS (ketika
itu Sri Mulyani) lebih berani lagi menjanjikan
inflasi 2005 tidak lebih 12% (Suara Karya, 26
Oktober 2005). Mengapa prediksi pejabat yang paling
berwenang di Indonesia ini keliru dan berbeda
dengan kehendak UU 9/2005 tentang APBN-P II? Kekeliruan
prediksi ini menyebabkan perekonomian Indonesia
kehilangan peluang PDB sekitar Rp 80T di tahun
2005, hampir sama dengan nilai subsidi BBM sebesar
Rp93T akibat kenaikan harga BBM, yang bila dikonversi
kepada lapangan kerja kita kehilangan peluang
penciptaan lapangan kerja sekitar 1,3 juta (dengan
asumsi 20% dari Rp 80T untuk biaya TK dengan upah
minimal Rp 1 juta/bulan). Dengan dependensi rasio
4,5, maka 6 juta orang miskin bisa tertolong.
Hanya karena kesalahan prediksi inflasi 3,1% (BI),
apalagi kesalahan 5,1% (BAPPENAS), atau bahkan
kesalahan terhadap APBN-P II tahun 2005 sebesar
8,5%. Mungkinkah kesalahan yang sama akan terjadi
lagi di tahun 2006 ini dan 2007 nanti? Pada tahun
2007, pemerintah memprediksi inflasi sebesar 6,5%.
2. Kail utama inflasi adalah tingkat suku bunga.
Tingkat suku bunga SBI yang semula 8,5% (Juli
2005) menjadi 9,5% masih di atas tingkat inflasi
8,3% bulan Agustus 2005, kemudian September 10%
SBI dan 9,1% inflasi. Mulai Oktober 2005 situasi
berubah kontraproduktif dengan 11% SBI dan 17,9%.
Pada 14 Desember 2005, SBI naik menjadi 12,75%,
jauh di bawah angka inflasi 17,1% Desember 2005
atau 17,92% bulan Februari 2006 (YoY). Pada 5
September 2006, BI menurunkan BI rate (SBI) menjadi
11,25%. Gap negatif yang sekarang ini mencapai
3,65% antara SBI dan inflasi ini tentu tidak akan
mampu mendorong perekonomian sampai akhir September
(Q3) tahun 2006, sampai prediksi SBI dan inflasi
diharapkan menjadi positif kembali. Tingkat bunga
SBI rata2 aktual tahun 2005 sebesar 9,1% juga
tidak sesuai dengan target APBN-P II tahun 2005
sebesar 8,4%. Dengan target rata2 APBN untuk SBI
sebesar 9,5% tahun 2006. Tahun 2007, target BI
rate adalah 8,5% dengan target inflasi 6,5%. Sanggupkah
BI melakukan itu? Mampukah Pemerintah dan BI berkoordinasi
dengan baik seperti amanat Pasal 21 UU No 17/2003
tentang Sistem Keuangan Negara?
3. Pertumbuhan ekonomi prediksi RAPBN 2007 adalah
6,3%. Prediksi tahun 2006 adalah 6,2%, ternyata
diubah menjadi 5,9% lalu diubah lagi menjadi 5,8%
dalam APBN-P 2006. 1% pertumbuhan ekonomi, menurut
data BAPPENAS (2006) diperkirakan menyerap 182.500
tenaga kerja. Dengan target pertumbuhan 6,3% tentu
tidak akan mampu menyerap pertumbuhan angkatan
kerja yang diperkirakan rata2 2 juta orang/tahun.
Sepertinya pengangguran akan terus bertambah kalau
tidak ada cara yang efektif dalam menicptakan
lapangan kerja baru. Investasi yang diharapkan
menjadi lokomatif pertumbuhan ternyata tidak kunjung
berkembang. Memang menjadi pertanyaan banyak orang,
sementara stabiltas makro (seperti inflasi dan
BI rate yang cenderung menurun) ternyata tidak
mampu menarik kereta investasi melaju. Dimana
letak masalahnya? Iklim investasi? Ekonomi biaya
tinggi masih berlanjut?
4. Investment sustainability adalah kata kunci
yang harus kembali dikedepankan oleh KIB II, mengingat
kebijakan macroeconomic stability ternyata tidak
cukup mampu menjaga ekspektasi pertumbuhan ekonomi
karena bila sedikit saja terjadi perubahan signifikan
dalam perekonomian, seperti kenaikan harga BBM,
tingkat pertumbuhan turun di bawah skedul yang
ditetapkan. Target pertumbuhan tahun 2005 ternyata
tidak dapat diharapkan tercapai, dan kemungkinan
juga target pertumbuhan tahun 2006 yang 6,2%,
yang diturunkan menjadi 5,8%. Sejak tahun 2003
dan 2004, sebenarnya telah terjadi pergeseran
relatif dari consumption-driven ke investment-driven
growth. Investasi tumbuh dari 1% (2003) menjadi
15,7% (2004) dan 13,2% (Q2 2005), tetapi kemudian
turun menjadi 9,2% (Q3 2005) dan -0,98% (Q2 2006).
Penurunan ini bila tidak segera disikapi oleh
Pemerintah dengan kebijakan investasi yang proper
malah akan mengubah kembali trend ke consumption-driven,
mulai terlihat angka yang meningkat di Q2-Q3 2005,
dari 3,5% menjadi 4,4% (konsumsi RT) dan dari
-5,6% menjadi 16,1% (belanja pemerintah). Pertumbuhan
konsumsi RT menjadi 2,99% (Q2 2006) dan konsumsi
pemerintah menjadi 31,38% (Q2 2006). Gejala peningkatan
dua bentuk konsumsi yang terakhir ini jelas tidak
akan mampu menjadi obat bagi masalah inflasi di
tahun 2006. Kalau kebijakan investasi tidak berubah
dengan cepat, situasi tahun 2007 tidak akan jauh
berbeda dengan tahun 2006.
5. Paling tidak tiga hal penting yang harus dibenahi
dalam hal investasi. Pertama, public investment,
khususnya dalam hal infrastruktur. Keberhasilan
infrastructure summit Januari 2005 ternyata tidak
berjalan baik dalam implementasinya. Sebagai lokomotif
pertumbuhan investasi, pembangunan infrastruktur
harus menjadi perhatian utama. Kedua, investment
climate yang masih amat memprihatinkan. Bandingkan
untuk urus surat izin saja Indonesia memerlukan
waktu 151 hari. Thailand, Malaysia, Vietnam dan
Filipina hanya memerlukan 33, 30, 50 dan 48 hari.
Ketiga, tax insentive scheme. Bagi investasi yang
mempunyai linkage yang luas, sebut saja investasi
di sektor migas dan tambang harus diberikan insentif
yang proporsional. Begitu juga bagi investasi
yang mampu menyerap tenaga kerja banyak.
6. Asumsi APBN 2007 tentang pertumbuhan 6,3%,
inflasi 6,5%, SBI 8,5%, nilai tukar 9.300 Rp/USD,
harga BBM USD 65 dan produksi minyak 1juta barel
akan mungkin tercapai bila pembangunan infrastruktur
berjalan sesuai rencana, tidak terjadi lagi kenaikan
harga BBM, iklim investasi dan transparansi publik
makin baik serta fighting corruption mampu meningkatkan
efisiensi birokrasi. TDL tahun 2006 telah berhasil
dilakukan pemerintah untuk tidak naik, gejala
ini patut disambut positif.
7. Dimana Kebijakan Partai Golkar dalam menghadapi
situasi tersebut? Paltfrom kebijakan ekonomi partai
berorientasi pada pertumbuhan ekonomi yang berkualitas
(quality of growth), yang berarti mampu menyerap
tenaga kerja banyak, yang dengan demikian mengatasi
kemiskinan. Dua hal ini akan tetap menjadi isu
yang strategis menghadapi pemilu 2009. Karena
Partai Golkar menjadi bagian tak terpisahkan dalam
pemerintahan pusat, dan juga khususnya juga di
pemerintahan daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota
di Kepulauan Riau, kemampuan untuk mengelaborasi
kebijakan partai ke dalam kebijakan pemerintahan
harus makin digalakkan dan diaplikasikandengan
tepat dan berdaya guna.
|
 |