ARTIKEL...

Di Balik Sosok “Sang Pencuri” Tulang

WHO (World Health Organization) mendefinisikan osteoporosis sebagai penurunan densitas atau kepadatan, kerusakan arsitektur dan meluasnya kerapuhan tulang sehingga menurunkan kekuatan tulang. sementara secara statistic, osteoporosis didefinisikan sebagai keadaan dimana Densitas Mineral Tulang (DMT) berada dibawah nilai rujukan menurut umur atau standar deviasi berada dibawah nilai rata-rata rujukan pada usia dewasa muda (DepKes, 2004) dan sebelum terjadi osteoporosis, seseorang terlebih dahulu mengalami proses ostopenia, yaitu suatu kondisi hilangnya sejumlah massa tulang akibat berbagai keadaan.
Ancanam yang paling ditakuti dari osetoporosis adalah patah tulang, apalagi, penyakit tulang keropos ini tidak menimbulkan keadaan klinis (karena itulah ia disebut sebagai silent disease), kecuali apabila telah terjadi fraktur. Padahal selain berfungsi untuk menyokong tubuh, tulang juga berfungsi untuk melindungi organ dan tempat melekatnya otot. Tidak mengerankan kalau penyakit ini harus mendapat perhatian serius.
Di Indonesia sendiri salahg satu penyebab tingginya risiko osteoporosis adalah meningkatnya usia harapan hidup masyarakat. Menteri kesehatan Siti Fadillah Supari menyebutkan bahwa usia harapan hidup di Indonesia meningkat dari 64 tahun menjadi 68 tahun, sedangkan proporsi penduduk usia lanjut porsi penduduk usia lanjut meningkat 9,2 persen pada tahun 1990 menjadi 9,9 persen pada tahun 2000.
Di samping itu, penyebab tingginya angka osteoporosis di tanah air adalah pengetahuan masyarakat yang masih rendah tentang penyakit tersebut. Hal ini terbukti dari masih rendahnya konsumsi kalsium rata-rata masyarakat Indonesia, yaitu sebesar 253 mg/hari.
“Kalsium kita dibilang 300-500 mg/hari, padahal harusnya 1000 mg/hari, karena kalau kita makan kalsium, 60% itu masuk dan 40% keluar. Jadi kebutuhan kalsium itu 1000 mg/hari, kalau hamil 1200 mg/hari, kalau menopause kurang lebih 1500 mg/hari dan kalau anak 400-800 mg/hari.” Ujar Prof. Dr. dr. Ichramsyah A Rachman SpOG(K) ketua perosi.
Pada perempuan, osteoporosis dipercepat dan diperparah dengan menurunnya hormon estrogen ketiak berusia lanjut. Padahal, estrogen mempunyai dua efek terhadap tulang, yakni langsung dan tidak langsung. Efek langsung terjadi melalui reseptor (penerima) estrogen di osteoblas (sel yang membantu proses pembentukan tulang) yang memicu osteoblas bekerja membentuk kolagen. Estrogen juga mempertahankan kadar normal sistokin dan mortosit (sel darah putih) sehingga aktivitas osteoklas (sel yang menghancurkan tulang) dihambat. Sedangkan efek tidak langsung terjadi melalui penurunan kalsitonin atau hormon paratiroid/PTH yang mengatur absopsi kalsium di usus. Hal lain yang menyebabkan osteoporosis adalah faktor makanan, yaitu kekurangan zat gizi seperti kalsium, vitamin D serta nutrisi lainnya. Penyakit ini juga merupakan dampak mengkonsumsi kafein, merokok dan minum alcohol secara berlebihan

 

Next
herb
bawah